Latest: Add Latest Article Here | Recommended: Add Recommended Article Here

Mencoba mengupas lebih dalam dan berbagi ilmu gratis

Subscribe For Free Latest Updates!

We'll not spam mate! We promise.



   Suku bangsa ini mendiami kepulauan Biak yang terletak di utara Teluk Cenderawasih di Irian Jaya. Penjelajah Eropa dulu menyebut kepulauan itu Schouten Islands. Terdiri dari dua buah pulau besar, yaitu Pulau Biak dan Numfor, serta puluhan pulau-pulau kecil disekitarnya. Ada juga yang menyebut suku bangsa ini orang Nufur atau Mafur (Mafoorsch). Jumlah populasinya sekitar 100.000 jiwa.

Bahasa Suku Biak Numfor

    Bahasa mereka tergolong bahasa Papua, terbagi dalam sejumlah dialek, seperti : Dialek Ariom, Bo'o, Dwar, Fairi, Korim, Mandusir, Mofu, Opif, Padoa, Penasifu, Samberi, Sor, Sorendidori, Sundei, Wari, Wadibu dan sebagainya.

Mata Pencaharian Suku Biak Numfor

    Daratan kepulauan ini amat tandus dan tidak baik untuk bercocok tanam dengan leluasa, karena itu sebagian besar mengandalkan mata pencahariannya kepada kegiatan menangkap ikan di laut dan sungai. Hanya di beberapa tempat mereka bisa menanam sayur, pisang, dan buah-buahan lainnya. Mereka banyak juga yang mengembangkan usaha perdagangan tradisional dengan masyarakat di daratan Irian Jaya. Barang dagangan mereka adalah ikan, garam, sagu, ubi, keladi, tembakau, damar, kayu besi, rotan, barang kelontong, beras.
Hubungan Kekerabatan Suku Biak Numfor
   Rumah mereka berupa rumah panggung yang diberi atap menyerupai batok kura-kura. Perahu-perahu mereka ditambatkan di lorong bawah rumah. Setiap rumah biasanya dihuni oleh satu keluarga batih yang terdiri dari beberapa keluarga inti dari keturunan lelaki senior di rumah itu.

    Prinsip hubungan kekerabatan mereka adalah patrilineal. Keluarga-keluarga batih itu tergabung lagi ke dalam keluarga luas terbatas dan kemudian membentuk klen patrilineal yang disebut keret. Sebaliknya dalam kegiatan ritual seperti inisiasi peranan saudara lelaki ibu sangat penting dalam mengantarkan seorang pemuda ke dunia dewasa. Sekarang kebanyakan orang Biak Numfor memeluk agama Kristen.

   Pada waktu pemerintah Belanda berkuasa di daerah Papua hingga awal tahun 1960-an nama yang dipakai untuk menamakan Kepulauan Biak-Numfor adalah Schouten Eilanden, menurut nama orang Eropa pertama berkebangsaan Belanda, yang mengunjungi daerah ini pada awal abad ke 17. Nama-nama lain yang sering dijumpai dalam laporan-laporan tua untuk penduduk dan daerah kepuluan ini adalah Numfor atau Wiak. Fonem w pada kata wiak sebenarnya berasal dari fonem v yang kemudian berubah menjadi b sehingga muncullah kata biak seperti yang digunakan sekarang. Dua nama terakhir itulah kemudian digabungkan menjadi satu nama yaitu Biak-Numfor, dengan tanda garis mendatar di antara dua kata itu sebagai tanda penghubung antara dua kata tersebut, yang dipakai secara resmi untuk menamakan daerah dan penduduk yang mendiami pulau-pulau yang terletak di sebelah utara Teluk Cenderawasih itu. Dalam percakapan sehari-hari orang hanya menggunakan nama Biak saja yang mengandung pengertian yang sama juga dengan yang disebutkan di atas.

   Tentang asal-usul nama serta arti kata tersebut ada beberapa pendapat. Pertama ialah bahwa nama Biak yang berasal dari kata v`iak itu yang pada mulanya merupakan suatu kata yang dipakai untuk menamakan penduduk yang bertempat tinggal di daerah pedalaman pulau-pulau tersebut. Kata tersebut mengandung pengertian orang-orang yang tinggal di dalam hutan`,`orang-orang yang tidak pandai kelautan`, seperti misalnya tidak cakap menangkap ikan di laut, tidak pandai berlayar di laut dan menyeberangi lautan yang luas dan lain-lain. Nama tersebut diberikan oleh penduduk pesisir pulau-pulau itu yang memang mempunyai kemahiran tinggi dalam hal-hal kelautan. Sungguhpun nama tersebut pada mulanya mengandung pengertian menghina golongan penduduk tertentu, nama itulah kemudian diterima dan dipakai sebagai nama resmi untuk penduduk dan daerah tersebut.

   Pendapat lain, berasal dari keterangan ceritera lisan rakyat berupa mite, yang menceritakan bahwa nama itu berasal dari warga klen Burdam yang meninggalkan Pulau Biak akibat pertengkaran mereka dengan warga klen Mandowen. Menurut mite itu, warga klen Burdam memutuskan berangkat meninggalkan Pulau Warmambo (nama asli Pulau Biak) untuk menetap di suatu tempat yang letaknya jauh sehingga Pulau Warmambo hilang dari pandangan mata. Demikianlah mereka berangkat, tetapi setiap kali mereka menoleh ke belakang mereka melihat Pulau Warmambo nampak di atas permukaan laut. Keadaan ini menyebabkan mereka berkata, v`iak wer`, atau `v`iak`, artinya ia muncul lagi. Kata v`iak inilah yang kemudian dipakai oleh mereka yang pergi untuk menamakan Pulau Warmambo dan hingga sekarang nama itulah yang tetap dipakai (Kamma 1978:29-33).

   Kata Biak secara resmi dipakai sebagai nama untuk menyebut daerah dan penduduknya yaitu pada saat dibentuknya lembaga Kainkain Karkara Biak pada tahun 1947 (De Bruijn 1965:87). Lembaga tersebut merupakan pengembangan dari lembaga adat kainkain karkara mnu yaitu suatu lembaga adat yang mempunyai fungsi mengatur kehidupan bersama dalam suatu komnunitas yang disebut mnu atau kampung. Penjelasan lebih luas tentang kedua lembaga itu diberikan pada pokok yang membicarakan organisasi kepemimpinan di bawah.
Nama Numfor berasal dari nama pulau dan golongan penduduk asli Pulau Numfor. Penggabungan nama Biak dan Numfor menjadi satu nama dan pemakaiannya secara resmi terjadi pada saat terbentuknya lembaga dewan daerah di Kepulauan Schouten yang diberi nama Dewan daerah Biak-Numfor pada tahun 1959.

   Dalam tulisan ini saya menggunakan nama Biak-Numfor untuk menyebut daerah geografisnya dan daerah administrasi pemerintahannya. Nama Biak digunakan untuk menyebut bahasa dan orang yang memeluk kebudayaan Biak yang bertempat tinggal di daerah Kepulauan Biak-Numfor sendiri maupun yang bertempat tinggal di daerah-daerah perantauan yang terletak di luar kepulauan tersebut.
Tentang sejarah orang Biak, baik sejarah asal usul maupun sejarah kontaknya dengan dunia luar, tidak diketahui banyak karena tidak tersedia keterangan tertulis. Satu-satunya sumber lokal yang memberikan keterangan tentang asal-usul orang Biak seperti halnya juga pada suku-suku bangsa lainnya di Papua, adalah mite. Menurut mite moyang orang Biak berasal dari satu daerah yang terletak di sebelah timur, tempat matahari terbit. Moyang pertama datang ke daerah kepulauan ini dengan menggunakan perahu. Ada beberapa versi ceritera kedatangan moyang pertama itu. Salah satu versi mite itu menceriterakan bahwa moyang pertama dari orang Biak terdiri dari sepasang suami isteri yang dihanyutkan oleh air bah di atas sebuah perahu dan ketika air surut kembali terdampar di atas satu bukit yang kemudian diberi nama oleh kedua pasang suami isteri itu Sarwambo. Bukit tersebut terdapat di bagian timur laut Pulau Biak (di sebelah selatan kampung Korem sekarang). Dari bukit sarwambo, moyang pertam itu bersama anak-anaknya berpindah ke tepi Sungai Korem dan dari tempat terakhir inilah mereka berkembang biak memenuhi seluruh Kepulauan Biak-Numfor.

   Selanjutnya tentang sejarah kontak orang Biak dengan dunia luar, baik menurut ceritera lisan tentang tokoh-tokoh legendaris Fakoki dan Pasrefi maupun sumber keterangan dari Tidore diketahui bahwa kontak itu telah terjadi jauh sebelum kedatangan orang Eropa pertama di daerah Papua pada awal abad ke-16 (Kamma 1953:151). Hubungan tersebut terjadi dengan penduduk di daerah pesisir utara Kepala Burung, Kepulauan Raja Ampat dan dengan penduduk di Kepulauan Maluku.
Kontak orang Biak dengan orang luar itu terjadi terutama melalui hubungan perdagangan dan ekspedisi-ekspedisi perang. Bukti terlihat pada adanya pemukiman-pemukiman orang Biak yang sampai sekarang dapat dijumpai di berbagai tempat seperti tersebut di atas. Rupanya pada masa sebelum kedatangan orang Eropa di Kepulauan Maluku dan daerah Papua awal abad ke-16, orang Biak telah menjelajah ke berbagai wilayah Indonesia lainnya baik melalui ekspedisi-ekspedisi perdagangan dan perang yang dilakukan oleh orang-orang Biak sendiri maupun bersama dengan sekutu-sekutunya, misalnya dengan Kesultanan Tidore atau dengan Kesultanan Ternate. Kejayaan orang Biak untuk melakukan berbagai ekspedisi itu menghilang pada akhir abad ke-15 (Kamma 1952:151). Tidak lama sebelum kedatangan orang Eropa pertama di kawasan Maluku dan Kepulauan Raja Ampat pada awal abad ke-16.

   Sejak dahulu penduduk pulau Biak cukup banyak. Mereka bermukim di Biak Utara, tepatnya di kampung Korem (desa Andei, sekarang pusat kota Distrik Korem Biak Utara). Kampung itu merupakan tempat pemukiman pertama atau tempat asal-usul orang-orang Biak yang sekarang tersebar keseluruh kampung di pulau Biak, Supiori, Numfor, dan pulau-pulau Padaido, bahkan sampai ke kepulauan Raja Ampat, yang sudah tentu pulau lain itu pun ada penduduk aslinya.

   Secara etimologis kata korem berarti kita meminyaki; mengurapi; memberkati. Suku kata /ko/ ‘kita’ dan /rem/ ‘meminyaki’. Oleh karena itu, jelaslah bahwa tempat ini merupakan tempat pemberkatan leluhur orang Biak, yang seterusnya berkembang menjadi banyak kemudian tersebar memenuhi kabupaten Biak-Numfor.

   Konon kabarnya, dipinggir kampung Korem itu berdiam pula seekor naga raksasa yang sangat buas. Sewaktu-waktu naga itu menyerang dan menelan semua yang dilihatnya, terutama manusia dan harta benda mereka. Saat-saat seperti itu masyarakat Korem merasa sebagai satu bencana yang sangat dahsyat da menakutkan. Masyarakat sudah tidak mampu lagi mengatasi buasnya naga itu. Karena itu, mereka menghindar dengan memilih pindah dari tempat itu dari pada mati konyol. Perlahan-lahan dan bertahap masyarakat Korem mulai berusaha meninggalkan kampung halaman mereka dengan pergi ke luar menuju ke Timur, Barat, dan Selatan. Mereka menghindar melalui darat dan laut dengan menggunakan perahu atau berjalan kaki.

   Peristiwa keluarnya masyarakat Korem itu merupakan salah satu bentuk perpindahan penduduk di pulau Biak. Penyebaran tersebut mengakibatkan tersebarnya penduduk Biak di daerah-daerah lain selain di pulau Biak dan sekitarnya sampai saat ini. Hal tersebut tidak berarti bahwa tidak ada sebaran penduduk luar ke Biak. Kenyataan menunjukkan ada pula sebaran penduduk ke Biak, hanya kejadian itu terjadi kemudian.

   Tidore sebagai kerajaan berbasis maritim yang terletak di Maluku Utara memiliki angkatan laut tersohor sekitar abad ke-16 sampai 17. Panglima angkatan laut Tidore berasal dari Biak bernama Gurabesi, atau ada yang menyebutnya Kurabesi. Hal itu diungkapkan pemerhati budaya Biak yang tinggal di Jakarta, Alfons Sroyer.

   Kepada JMOL, Alfons menuturkan, “Dalam tahun 1649, waktu VOC sedang berperang dengan Tidore, datanglah suatu armada yang terdiri dari 24 perahu ke Tidore dengan membawa bahan makanan. Kapal-kapal kecil itu datang dari kepulauan Irian untuk membantu raja Tidore, di bawah perintah seorang yang bernama Gurabesi."

   Menceritakan kisah ini, Alfons terpaksa membuka buku tulisan Dr. F.C. KAMMA, yang berisi sejarah Biak dan tokohnya, Gurabesi.

   Lebih lanjut Alfons menjelaskan, kisah Gurabesi berkaitan erat dengan sejarah Kepulauan Raja Ampat. Menurutnya, sebelum berlayar ke Tidore, Gurabesi dan pasukannya singgah di Pulau Waigeo, Raja Ampat. Setelah bertahun-tahun menetap di Pulau ini, dan membangun pangkalan laut yang kuat, Gurabesi memimpin daerah ini dengan perkasa. Ia juga menjadikan Kepulauan Raja Ampat sampai Seram sebagai jalur perniagaan yang strategis.

   Ketika Gurabesi berlayar ke Tidore dengan maksud berdagang, ia turut membantu Kesultanan Tidore menghadapi Kesultanan Jailolo dan Ternate. Atas kegemilangannya memimpin pertempuran laut, Gurabesi diangkat menjadi panglima perang angkatan laut Kesultanan Tidore, atau saat ini setara dengan KSAL.

   Selain itu, sebagai imbalannya, Sultan Tidore mengizinkan anak perempuannya, Boki Tabai, menjadi istri Gurabesi. Konon, nama Papua juga pemberian dari Sultan Tidore untuk memanggil sebutan nama dari Gurabesi dengan sebutan ‘papa ua’. Sebab, dari 360 suku yang ada di Papua saat ini tak ditemukan suku kata ‘papua’ itu dalam bahasa mereka. Papua berasal kata ‘papa ua’, yang artinya ‘tiada-papa’ dalam bahasa daerah Ternate.

   Sebelum Gurabesi bersama istrinya berangkat kembali ke Raja Ampat, Sultan Tidore memberi mandat kepada Gurabesi untuk menjadi raja di Kepulauan Raja Ampat dan berpesan kepadanya bahwa kerajaan Tidore akan memberikan dukungan bantuan kepada Gurabesi untuk mendirikan kekuasannya. Selain itu, kerajaan Gurabesi tetap menjadi sekutu Tidore.

   “Dari situ rakyat yang akan ditaklukan Gurabesi harus membayar upeti kepada Gurabesi dan juga kepada Sultan Tidore setiap tahun. Dengan perjanjian itu, Gurabesi bersama istrinya berangkat ke negeri Gurabesi,” ucap Alfons.

   Mereka tiba di Pulau Waigeo dan menetap di pusat Pulau Waikeo. Demikianlah, dari Waigeo itulah kekuasaan Gurabesi berkembang ke pulau-pulau lainnya di Kepulauan Raja Ampat, seperti Misol, Salawati, dan Batanta.

   Berbagai prestasi telah ditorehkan Gurabesi saat menjadi panglima perang Kesultanan Tidore, antara lain memenangkan pertempuran dengan VOC, Portugis, dan negeri-negeri lain yang ingin menyerang Tidore

Sumber : google . com

0 comments :

Post a Comment

MUSIK UNTUK OTAK

MUSIK UNTUK OTAK Misalnya, praktek musik mempengaruhi ketebalan di bagian korteks yang berhubungan dengan fungsi eksekutif, termasuk me...

propeller ads



Copyright © 2016 - Mengupas Pustaka - All Rights Reserved
(Articles Cannot Be Reproduced Without Author Permission.)
Design By : SafeTricks & Techrar | Powered By: Blogger