Latest: Add Latest Article Here | Recommended: Add Recommended Article Here

Mencoba mengupas lebih dalam dan berbagi ilmu gratis

Subscribe For Free Latest Updates!

We'll not spam mate! We promise.


Sejarah asal kota Galuh (Ciamis)

Dalam peta pulau jawa sekarang, dapat dikenali nama "Galuh" di berbagai tempat, baik sebagai kata yang berdiri sendiri maupun dirangkaikan dengan kata lain atau suku kata tambahan. Nama tempat ini pada umumnya terdapat di Propinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan Propinsi Jawa Barat, misalnya Galuh (Purbalingga), Galuh Timur (Bumiayu), Sirah Galuh (Cilacap), Segaluh dan sungai Begaluh (Leksono), Samigaluh (Purworejo), Rajagaluh (Majalengka). Di Jawa Timur juga dikenal nama Hujung Galuh.

Dengan banyaknya nama yang berkaitan dengan "Galuh" yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, maka menurut sejarawan W.J. van den Meulen, nama-nama itu kemungkinan besar merupakan perluasan ke sebelah timur dari wilayah yang sangat mungkin bersifat pusat asli daerah (kerajan) Galuh, yaitu sekitar Kawali (Kabupaten Ciamis sekarang). Selanjutnya W.J van der Meulen berpendapat bahwa kata "galluh" beraal dari kata "sakaloh" berarti "dari sungai asalnya", dan dalam lidah banyumas menjadi "segaluh" hipotesis Van der Meulen yang diperoleh dari perbandingan nama-nama tempat di Kamboja dengan pola sama, masih perlu dibuktikan

Dalam bahasa sansekerta, kala "Galu" menunjukkan sejenis batu permata, dan biasa juga dipergunakan untk menyebut puteri raja (yang sedang memerintah) dan belum memerintah.

Tentang Kerajaan Galuh

Sebagaimana riwayat kota-kabupaten lain di Jawa Barat, sumber-sumber yang menceritakan asal-usul suatu daerah yang umumnya tergolong historiografi tradisional yang mengandung unsur-unsur mitos, dongeng, atau legenda disamping unsur-unsur yang bersifat historis. Naskah - naskah ini antara lain Carios Wiwitan Raja-raja di Pulo Jawa, Wawacan Sejarah Galuh dan juga naskah Sejarah Galkuh bareng Galunggung, Ciung Wanara, Carita Wagura Guru, Sejarah Bogor. Naskah-naskah ini pada umumnya ditulis pada abad ke-18 sampai abad ke-19. Jadi, cukup jauh jarak antara peristiwanya dengan masa penulisannya. Hal ini dianggap sebagai kelemahan sumber semacam ini apabila dipergunakan sebagai sumber sejarah. Penyebabnya adalah para penulis hanya mengandalkan cerita turun-temurun atau ingatan turun-menurun yang tidak terlepas darikemungkinan ditambah atau dikurangi atau direkayasa oleh sipencerita sesuai dengan imajinasi, kepentingan, atau tujuan penulisan naskah. Naskah-naskah ini, kita sebut sebagai kelompok pertama, tergolong sebagai sumber sekunder, artinya bukan sumber sejaman atau sumber yang ditulis oleh pelaku atau saksi sejarah. Beruntunglah kita, karena meskipun sedikit masih ada sumber yang sangat penting yaitu naskah-naskah yang sejaman atau lebih mendekati jaman Kerajaan Galuh. Naskah-naskah tersebut yaitu Sanghyang Siksakandang Karesian, ditulis tahun 1518, ketika kerajaan Sunda masih ada dan Carita Parahyangan, ditulis pada tahun 1580, setahun setelah Kerajaan Sunda runtuh. Kedua naskah kita sebut kelompok kedua, tergolong sebagai sumber premier atau sumber yang ditulis oleh pelaku atau saksi sejarah. Apa yang diberitakan salam naskah kelompok pertama dan kedua diatas harus didampingij dengan sumber-sumber premier (sumber sejaman) yang kuat, yaitu prasasti. Hanya saja jumlah prasasti ini pun sangat sedikit.

Berdirinya Galuh sebagai kerajaan, menurut naskah-naskah kelompok pertama diatas, tidak terlepas dari tokoh Ratu Galuh sebagai ratu pertama. Sebuah tim yang dibentuk untuk menulis sejarah Galuh-Ciamis telah melakukan penelitian (awal?). Dalam laporan yang ditulis Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), didapati berbagai nama kerajaan yang berkaitan dengan Galuh, dengan ibukota yang berpindah-pindah. Berturut-turut nama kerajaan sebagai berikut : Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok beribukotakan Medang Gili (tahun 78 masehi?); Kerajaan Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan; Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota Medang Kamulan; Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman; Galuh kalingga berlokasi di Bojong beribukotakan Karangkamulyan; Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo; Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota Medang Kamulyan; Galuh pakuan beribukota Kawali; Galuh Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan; Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukotakan Pataka, kabupaten Galuh NagaraTengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung; Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota Imbanagara; dan Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota Ciamis (sejak tahun 1812).

Untuk mencari bukti-bukti historis tentang keberadaan kerajaan-kerajaan yang telah disebutkan memang tidak mudah, karena sumber primer yang sangat terbatas juga barang-barang peninggalan yang sulit dilacak kepastian tahun pembuatannya. Untuk periode abad ke-16 sampai abad ke-20, pembuktian dari sumber lokal berupa naskah dapat diperkuat dengan berita atau catatan yang dibuat oleh orang Portugis ataupun VOC.

Mitos-mitos Kerajaan Galuh

Dalam naskah Wawacan Sajarah Galuh, diceritakan asal-usul Kerajaan Galuh sebagai berikut. Nabi Adam dan Istrinya Babu Hawa, adalah manusia pertama yang hidup dibumi ini. Mereka mempunyai 79 anak yang terdiri atas 40 anak laki-laki dan 39 anak perempuan. Ke 79 putera Nabi Adam itulah yang menjadi cikal bakal manusia di seluruh dunia, antara lain Melayu, Arab, Sunda, Jawa, Turki, Afrika, Amerika, Palembang, Sambas, Malaka, Pulau Penang, Negeri Judah, Bali, Ambon, Bugis, Riau dan Pupau Cina. Ratu Galuh berhasil mendirikan sebuah Nagara di Lakbok, setelah mengalahkan Nurana, penguasa mahluk halus. Setelah menyelamatkan diri dari banjir besar selama 40 hari, zaman Nabi Nuh, Sang Ratu dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri dengan naik ke Gunung Padang dan Gunung Galunggung yang diciptakannya. Setelah banjir surut, Ratu Galuh meminta rakyatnya mencari tempat untuk mendirikan nagara baru. Untuk sementara ia menetap di Bojonglopang. Untuk ibukota negara baru ditetapkan disebuah tempat dimana ditemukan batu persegi berwarna putih, yaitu didaerah pertemuan wilayah Sungai Cimutur, dibagian mudik Karangkamulyan. Selain  itu, tempat tersebut dijatuhi cahaya yang keluar dari gunung meletus karena terpanah seribu guntur. Disitulah Ratu Galuh mendirikan negara baru yang diberi nama Bojonggaluh. Setelah lama memerintah, Ratu Galuh meninggalkan keratonuntuk menjadi pertapa. Patihnya yang bernama Ki Bondan diserahi tahta, dan berkat cincin raja yang disebut socaludira, sang patih berganti rupa menjadi sang Ratu Galuh. Ternyata sang patih mengkhianati janjinya untuk tetap setia kepada raja, ia bertindak sewenang-wenang. Salah seorang putera raja, Ciung Wanara, memberi hukuman dengan memasukkannya kedalam kurungan besi yang dikunci dari luar. Karena perbuatannya, Ciung Wanara berselisih dengan saudaranya Hariang Banga. perkelahian yang berlangsung berhari-hari itu berakhir dengan permufakatan bahwa pulau Jawa akan dibagi dua, Ciung Wanara menjadi raja Pajajaran dan Hariang Bangga berkuasa di Majapahit. Setelah itu kisah dilanjutkan hingga bagian akhir yang menceritakan keluarga Bupati Galuh R.A.A. Kusumadiningrat atau Kanjeng Prebu.

Dari sumber historiografi tradisional diatas, bagian-bagian yang secara historis dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya adalah terutama yang dituliskan pada bagian akhir, karena si penulis hidup pada masa itu. Sementara bagian-bagian awal lebih banyak diwarnai mitos. Namun demikian memiliki fungsi. Setidak-tidaknya adanya penyebutan Nabi Adam dan banjir besar Nabi Nuh menunjukkan bahwa naskah ditulis pada waktu masyarakat Galuh sudah beragama Islam yang sudah mengenal kisah banjir sebagaimana ditulis pada Al-Quran. hanya saja dikaitkannya peristiwa banjir di Galuh harus ditafsirkan bahwa daerah Ciamis selatan itu memang merupakan daerah langganan bajir. Beberapa nama dahulu sudah merupakan nama-nama yang bersifat historis hanya saja sifat anakronistis (periode yang terkait tidak bersesuaian denga periode historis) tidak dapat dilepaskan dari kisah-kisah semacam ini. Misalnya nama nabi Nuh itu apakah berlangsung sejaman dengan masa pemerintahan Ratu Galuh? Kapan hal itu berlangsung?

Pembuktian Historis Kerajaan Galuh


Seperti diketahui, berdasarkan penelitian atas beberpa prasasti yang ditemukan di Jawa Barat, sejak berakhirnya kerajaan Tarumanegara pada abad ke-7, berdri pusat kekuasaan yang dikenal sebagai kerajaan Sunda. Pusat kerajaan ini berpindah-pindah dimaulai dari Galuh, kemudian ke Pakuan Pajajaran, setelah itu Kawali dan berakhir di Pakuan Pajajaran (Bogor). Perpindahan ibukota kerajaan bisa terjadi karena berbagai alasan. Lebih dari itu, nama kerajaan bisa berubah-ubah pula, karena adanya kebiasaan di negara Asia Tenggara untuk menyebut nama kerajaan dengan nama ibukotanya. Jadi kalau sebuah sumber menyebut nama kerajaan Galuh, itu bisa berarti Kerajaan Sunda yang beribukota di Galuh.

Untuk meneliti secara historis, kapan Kerajaan Galuh didirikan, dapat dilacak dari sumber - sumber sejaman berupa prasasti. Ada beberapa prasasti yang memuat nama "Galuh"' meskipun tanpa disertai penjelasan tentan lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka 910. Raja Balitung disebut sebagai "Rakai Galuh". Dalam prasasti Siman berangka tahun 943, disebutkan bahwa "kadatwan rahyangta i mdang i bhumi mataram ingwatu galuh".

kemudian dalam sebuah piagam yang dikenal sebagai piagam Calcutta disebutkan bahwa "para penyerang Airlangga lari ke Galuh dan barat, mereka dimusnahkan dalam tahun 1031". Selain itu, dalam beberapa prasasti di Jawa Timur dalam kitab Pararaton (diperkirakan ditulis pada abad ke-15), disebutkan sebuah tempat bernama "Hujung Galuh" yang terletak di tepi sungai Brantas. Tampaknya dari praasti-prasasti ini, yang dimaksud dengan Galuh belumlah jelas kaitannya dengan Galuh di Jawa barat. Oleh karena itu, berikut dikemukakan prasasti yang lebih dekat ke Jawa Barat.

Dalam sebuah prasasti berangka tahun 732, ditemukan di halaman percandian gungung Wukir di Dukuh Canggal (dekat Muntilan sekarang), disebutkan bahwa "Sanjaya telah menggantikan raja sebelumnya yang bernama Sanna, Sanjaya adalah anak dari Sannaha, saudara perempuan Sanna". Tampaknya isi prasasti ini ada hubungannya dengan sebuah naskah yang ditulis pada abad ke-16, yaitu Carita Parahyangan. Naskah ini mengungkapkan bahwa Raja Sena yang berkuasa di Galuh dikalahkan oleh Rahyang Purbasora, saudara seibu sang raja. Raja Sena dibuang ke Gunung Marapi bersama keluarganya, dan setelah dewasa Sanjaya berhasil mengalahkan Sanghyang Purbasora. Nama "Galuh" sebagai ibukota disebut berkali-kali dalam naskah ini. Selain itu, nama-nama tempat yang disebutkan dalam naskah ini pada umumnya terletak di Jawa Barat bagian Timur. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pada abad ke-8 Masehi pernah ada raja Sanjaya yang berkuasa di Galuh.

Lama tidak ada berita tentang Galuh, Baru abad ke-11. Hal ini didasakran atas temuan prasasti tepi Cicatih, Cibadak, Sukabumi. Dalam prasasti yang berangka tahun 952 saka atau 1013 Masehi ini disebutkan bahwa Sri Jayabuphati adalah Haji Ri Sunda (Raja di Sunda) yang berkuasa di Prahajyan Sunda. Tokoh ini, dalam Carita Prahyangan, kemungkinan besar sama dengan tokoh Rakean Darmasiksa yang berkuasa di pakuan Pajajaran, berdasarkan kesamaan sifat dan pekerjaan besar yang merekan lakukan. Jadi hingga abad ke-11 ini pusat Kerajaan Sunda berada di Pakuan Pajajaran.

Dalam periode berikutnya, pusat kerjaan pindah ke Kawali. Hal ini dapat dibuktikan dari bagian Carita Parahhyangan, menyebutkan bahwa Prabu Maharaja, berkedudukan di Kawali. Setelah menjadi raja selama tujuh tahun, pergi ke Jawa dan terjadilah Perang Majapahit. Dari sumber lain diketahui bahwa Prabu Hayam Wuruk yang baru naik tahta pada tahun 1350, meminta putri Prabu Maharaja untuk menjadi istrinya. Hanya saja, konon Patih Gajah Mada menghendaki agar putri itu diberikan sebagai upeti. Raja Sunda tidak menerima sikap arogan Majapahit ini dan memilih untuk berperang hingga gugur dalam peperangan di Bubat. Dikatakan selanjutnya bahwa putranya yang bernama Niskala Wastu Kancana waktu itu masih kecil. Oleh karena itu kerajaan dipegang oleh Hyang Bunisora selama beberapa waktu sebelum akhirnya diserahkan kepada Niskala Wastu Kancana ketika sudah dewasa.

Keterangan mengenai Niskala Wastu Kancana, dapat diperjelas dengan bukti berupa prasasti. Dalam prasasti kawali (tanpa angka tahun), disebutkan adanya seorang raja yang dikenal sebagai Prabu Raja Wastu yang menguasai kota Kawali, kratonnya disebut Surawisesa. Darai prasasti ini dapat diketahui pula, bahwa Prabu Raja Wastu telah membuat parit di sekeliling keraton. Disamping itu ia telah membuat desa-desa dan meresmikannya. Ia juga mengharapkan agar orang-orang datang kemudian, berbuat kebajikan sehingga dengan demikian dapat hidup lama dan berbahagia di dunia. Pengharapan seperti ini ternyata juga dpat ditemukan dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian yang ditulis tahun 1518 masehi.

Tokoh Niskala Wastu Kancana ini ternyata juga disebut di dalam prasasti Batutulis, dan prasasti Kebantenan. Dalam prasasti Batutulis, disebutkan bahwa Rahyang Niskala Wastu dimakamkan di Nusalarang, sedangkan Rahyang Dewa Niskala dimakamkan di Gunatiga. Dalam prasasti Kebantenan disebutkan  bahwa Rahyang Ningrat Kancana sebagai "...maka nguni ka susuhanan ayeuna di Pakwan Pajajaran..." artinya "tokoh yang digantikan oleh Susuhunan di Pakwan Pajajaran". Dalam Carita Parahyangan, disebutkan bahwa Rahyang Niskala Wastu Kancana dimakamkan di Nusalarang, sedangkan Rahyang Dewa Niskala atau Rahyang Ningrat Kancana, dalam naskah ini disebutkan namanya, tetapi disebut sebagai Tohaan di galuh (artinya "yang dipertuan Galuh"), dimakamkan di Galuh tilu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Prabu Maharaja yang gugur di Bubat adalah Raja Sunda. Beliau digantikan oleh anaknya yang bernama Prabu Niskala Wastu Kancana sebagai Raja Sunda yang berkedudukan di Kawali. Beliau disebut sebagai Tohaan di galuh. Kota Kawali ini merupakan pusat kekuasaan Kerajaan Sundadi Jawa Barat bagian Timur, letaknya tak jauh dari kerajaan Galuh pada masa Raja Sanjaya.dalam cerita parahyangan disebutkan pula bahwa tohaan di galuh di gantikan oleh anaknya sendiri yang bernama sang ratu jayadewata dalam prasasti kebatenan, ia hanya di sebut sebagai ''yang kini menjadi susuhanya di pangkuang panjajaran ''. tokoh ini dapat disamakan dengan raja yang disebut batulis, yaitu ''prabu guru dewatapran sri baduga maharaja ratu haji di pakuan panjajara sri sang ratu dewata [lihatlah kesamaan nama ''ratu dewata'' dalam kedua prassti]. dengan demikian, jelaslah bahwa pusat kerjaan sunda sudah pindah ke pakuan panjajaran.selanjutnya, dari cerita parahyangan, sumber sezaman dengan masa akhir kerajaan sunda. dapat diketauhi bahwa setelah badugah maharaja, yang menjadi raja adalah prabu surawisesa yang dalam sumber-sumber portugis dikenal sebagai ratu samiam. setela itu. ia digantikan berturut-turut oleh; prabu ratudewata,sang ratu saksi,tohaan di majaya, dan yang terahi rnusiya mulya yang dikalahkan oleh maulana yusuf dari kerajaan banten pada tahun 1579, sehingga berahirlah kerajaa sunda.

pada waktu pusat kekuasaan kerajaan berpindah- pindah, maka di tempat yang ditinggalkan tidak ada kevakuman kekuasaan. hal ini terbukti ketika kerajaan sundah runtuh di pakuan panjajaran, di galuh masih memerintah prabu cipta sanghiang di galuh. putra prabu haur kuning. ketika pakuan panjajaran diislamkan oleh banten. galuh pun diislamkan oleh cirebon... islam dikembangkan dari cirebon ke galuh melalui maharaja kawali. ceritanya adalah demikian; putera mahkota galuh, yang bernama ujang ngekel, jatuh cerita kepada puteri maharaja kawali yang bernama tanduran di anjung, oleh karena ujang ngekel masih beragama hindu, maka maharaja kawali melaporkan hal ini kepada sultan cirebon. ujang ngengkel dipersilakan datang di cirebon. dan ternyata ia bersedia memeluk agama islam walapun adat asli  galuh yang masih Prabu Sanghyang Cipta di Galuh meninggal, Ujang Ngekal naik tahta dengan nama Prabu Galuh Cipta Permana dan berkedudukan di Gara Tengah. Kemudian setelah ia meninggal, puteranya yang dikenal sebagai Adi[pati Panaekan, menggantikan ayahnya sebagai penguasa Galuh.

Pada tahun 1595, Galuh jatuh ke tangan Senapati dari Mataram. Dalam sumber Belannda, batas-batas Kerajaan Galuh yang jatuh ke tangan Mataram itu adalah : di sebelah timur Sungai Citanduy, disebelah utara berbatasan dengan Sumedang, disebelah barat berbatasan dengan Galunggung, Sukapura dan disbelah selatan dengan sungai Cijulang. Akan tetapi, beberapa daerah yang sekarang termasuk Jawa Tengah yaitu Majenang, Dayeuh Luhur, dan Pegadingan, dahulunya termasuk wilayah Kerajaan Galuh, dan di tempat-tempat tersebut hingga sekarang sebagian komunitasnya masih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari.

Invasi Mataram ke Galuh semakin diperkuat pada masa Sultan Agung. Penguasa Galuh, Adipati Panaekan, diangkat sebagai wedana Mataram dengan diberi 960 cacah. Artinya, Galuh dijadikan sebagai vassal Mataram. Ketika Mataram merencanakan serangan terhadap VOC di Batavia pada tahun 1628, para vassal Mataram di Priangan bersilang pendapat, Rangga Gempol I dari Sumedang misalnya, menginginkan agar pertahanan diperkuat dahulu, sedangkan Dipati Ukur dari Tatar Ukur, menginginkan serangan dilakukan segera. Pertentangan pendapat terjadi juga di Galuh antara Adipati Panaekan dengan adik iparnya yang bernama Dipati Kertabumii, bupati di Bojonglopang, anak Prabu Dimuntur yang masih keturunan Geusan Ulun dari Sumedang. Dalam perselisihan ini Adipati Panaekan terbunuh pada tahun 1625. Ia kemudian digantikan oleh puntranya yang bernama Mas Dipati Imbanagara yang berkedudukan di Gara Tengah (Cineam sekarang).

Ketika penyerangan ke Batavia dilakukan oleh Sultan Agung pada tahun 1628, Galuh memberi bantuan pasukan di bawah pimpinan Bagus Saputra. Pada tahun 1634, Sultan Agung mengangkat Bagus Saputra sebagai Bupati Kawasen (terletak antara Banjarsari-Padaherang sekarang). Konon, menurut satu sumber, ia diangkat menjadi bupati karena jasanya dalam menangkap Dipati Ukur. Ketika ia meninggal pada tahun 1653, jabatan bupati dipegang oleh putranya yang ebrnama Tumenggung Sutanegara hingga tahun 1676. Setelah itu digabungkan dengan Imbanagara.

Pada tahun 1633, keturunan Adipati kertabumi yang bernama Singaperbangsa atau Wiraperbangsa, bersama-sama dengan Ki Wirasaba dari banyumas di angkat oleh Sultan Agung sebagai wedana yang harus menjaga perbatasan wilayah kekuasaan Mataram di sebelah Barat. Keduanya, masing-masing berkedudukan di Waringin Pitu dan Tanjungpura, Karawang, ditugasi untuk mengawasi 2000 orang (Jawa) yang dibawa ke Karawang untuk mengelola sawah dan Singaperbangsa diwajibkan untuk mengurus pengangkutan hasil panen. Setelah Singaperbangsa menginggal, ia digantikan oleh Singaperbangsa II. Ia kemudian digantikan oleh anaknya, Panatayuda I, yang pada tahun 1680 mendapat surat pengangkatan sebagai Bupati Karawang dari VOC. Oleh karena itu, setelah Panatayuda I, di Kertabumi tidak ada lagi bupati.

Sementara itu, Mas Dipati Imbanagara yang dicurigai berpihak kepada Dipati Ukur yang dianggap berkhianat kepada Mataram, dihukum mati atas perintah Sultan Agung pada tahun 1636. Putranya yang bernama Mas Bongsar diangkat sebagai Bupati Garatengah di bawah perwalian Patih Wirangga, karena bupati baru ini masih terlalu muda usianya, 13 tahun. Mas Bongsar diberi gelar Raden Panji Aria Adipati Jayanegara, dan Imbanagara dijadikan nama kabupaten. Menurut satu cerita, Patih Wiranangga ini melakukan pengkhianatan. Dalam perjalanan pulang dari Mataram dengan membawa piagam pengangkatan untuk Mas Bongsar, patih Wiranangga sebagai kepala perutusan Galuh ke Mataram, mengganti piagam itu dengan yang palsu. Surat pengangkatan palsu itu menjadikan dirinya sebagai Bupati Galuh, semsntara surat pengangkatan asli dibuang ke sebuah kolong rumah di Padaherang. Kebetulan saja surat asli itu ditemukan oleh seorang ponggawa yang setia, sehingga kecurangan Wirangga dapat dibuka dan gagal menjadi Bupati Galuh. Sejak saai itulah timbul pantangan untuk keturunan Mas Bongsar : "Cadu" membuat rumah yang berkolong tinggi.

Lahirnya Kabupaten Galuh ( Ciamis )

Pada masa Dipati Imbanagara, ibukota Kabupaten Galuh dipindahkan dari Gara Tengah (Cineam) ke Calingcing, tetapi tidak lama kemudian dipindahkan ke Bendanegara (Panyingkiran). Oleh karena kedua tempat itu memberi kenangan buruk dengan terbunuhnya Adipati Panaekan dan Dipati Imbanagara, pada tanggal 14 Mulud tahun He yang jatuh pada tanggal 12 Juni 1642, Raden Panji Aria Jayanegara memindahkan lagi ibukota kabupaten ke Barunay yang terletak di Imbanagara sekarang. Tempat ini dianggap baik sebagai ibukota kabupaten sehingga Raden Panji dapat memerintah selama 42 tahun. Selama ratusan tahun Imbanagara menjadi Ibukota Kabupaten Galuh. Sepanjang perjalanan waktu itu pula, kabupaten-kabupaten lain seperti : Kertabumi, Panjalu, Kawali, Utama, dan Kawasen dihilangkan, sehingga akhirnya wilayah Kabupaten Galuh meliputi daerah yang luas mulai Cijolang hingga ke pantai selatan dan dari Citanduy di timur hinngga perbatasan Sukapura. Oleh karena itu, 12 Juni 1642 dianggap sebagai hari libur Kabupaten Galuh.

Pada masa Raden Panji menjadi bupati, Sultan Mataram melakukan reorganisasi di Mancanegara Barat. Pada tahun 1641, wilayah Sumedanglarang dipecah menjadi empat kabupaten, yaitu Sumedang, Sukapura, Parakanmucang dan Bandung. Selain itu, wilayyah Galuh dipecah-pecah menjadi beberapa pusat kekuasaan yang kecil-kecil yaitu Utama dipimpin oleh Sutamanggala, Imbanagara di bawah Raden Panji Adipati Jayanegara, Bojonglopang dibbawah Dipati Kertabumi, dan Kawasen di bawah Bagus Sutapura, dan daerah Banyumas. Setelah Jayanegara meninggal ia digantikan oelh Anggapraja, tetapi tidak lama kemudian ia menyerahkan jabatan kepada adiknya, Angganaya. Daerah Utama kemudian digabungkan dengan Bojonglopang dan dikepalai oleh Wirabaya. Dipati Kertabumi yang semula mengepalai Bojonglopang dipindahkan ke Karawang dengan membawa 1000 cacah dari Jawa dan ia menjadi cikal bakal para bupati Karawang.

Pada tahun 1645, setelah Sultan Agung meninggal, putranya yaitu Sunan Amangkurat I meneruskan reorganisasi wilayah Mancanegara Barat. Daerah ini dibagi atas 12 ajeg (setara kabupaten) yaitu : Sumedang, Parakanmuncang, Bandung, Sukapura, karawang, Imbanagara, Kawasen, Wirabaya (Galuh), Sekace, Banyumas, Ayah, dan Banjar. Jadi, dalam reorganisasi terakhir ini, bekas wilayah kerajaan Galuh dahulu dipecah lagi sehingga menjadi lebih kecil. Meskipun demikian pusat-pusat kekuasaan yang sudah tua itu tetap eksis : Imbanagara, Kawasen, Galuh, dan Banjar.

Dalam perkembangan berikutnya, wilayah-wilayah ini tidak dianggap memiliki kedudukan yang sama, karena alasan-alasan tertentu. Oleh karena itu, dalam keputusan-keputusan yang dibuat pemerintah kolonial, sering kali satu wilayah disebut, sementara yang lainnya tidak disebut.

Galuh di bawah Kolonialisme VOC

Sejak tahun 1684, Jacob Couper dalam pertemuan para bupati di Benteng VOC Beschermingh di Cirebon menempatkan para bupati Priangandi bawah VOC. Dalam "Nieuwe Aanstelling Brieven" (Surat Pengangkatan Baru) atau lebih dikenal sebagai "Undang-undang Couper" ditetapkan bahwa Dalem Imbanagara mendapat 708 cacah, Dalem Kawasen mendapat 605 cacah, dan Lurah Bojonglopang mendapat 20 cacah dan 10 desa. Dalam hak ini tidak disebut-sebut adanya pembagian cacah untuk Galuh.

Nama wilayah Galuh baru disebut lagi dalam perjanjian Mataram-Kompeni 5 Oktober 1705, yang isinya antara lain : Mataram menyerahkan wilayah Cirebon dan Priangan-Cirebon yang meliputi Imbanagara, Galuh dan Sukapura kepada VOC, sebagai imbalan atas bantuan VOC ketika membantu Pangeran Puger untuk merebut tahta Mataram dari keponakannya amangkurat III atau Sunan Mas.

Sebelum perjanjian diatas, pada tahun 1693, Bupati Sutadinata diangkat oleh VOC sebagai Bupati Galuh menggantikan Angganaya yang meninggal dunia. Pada tahun 1706, ia digantikan Angganaya yang meninggal dunia. Pada tahun 1706, ia digantikan pula oleh Kasumadinata I (1706-1727). Pada masa pemerintahannya, Galuh dengan kabupaten-kabupaten Priangan lainnya diletakkan dibawah pengawasan Pangeran Aria Cirebon hingga tahun 1723. Keturunan Sunan Gunung Jati ini diberi wewenang untk mengawasi tindakana para Bupati Priangan dan melakukan berbagai kebijakan sesuai dengan instruksi yang dikeluarkan untukknya pada tanggal 22 maret 1706. Beberapa perubahan dilakukannya. Misalnya ia mengusulkan kepada VOC agar Bupati Kawasen, Sutanangga diganti oleh Patih Ciamis yang dianggapnya sebagai ningrat tertua dan terpandai. Usul ini dikabulkan VOC.

Berlanjut ke Part.2
Read More >>

MUSIK UNTUK OTAK

MUSIK UNTUK OTAK Misalnya, praktek musik mempengaruhi ketebalan di bagian korteks yang berhubungan dengan fungsi eksekutif, termasuk me...

propeller ads



Copyright © 2016 - Mengupas Pustaka - All Rights Reserved
(Articles Cannot Be Reproduced Without Author Permission.)
Design By : | Powered By: Blogger